Komunitas Zeenit

Komunitas Zeenit Indonesia
 
IndeksIndeks  FAQFAQ  PencarianPencarian  AnggotaAnggota  GroupGroup  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 Bahan diskusi yang terputus..:D

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
khom
Baru Nyoba
Baru Nyoba


Jumlah posting : 28
Join date : 23.07.08

PostSubyek: Bahan diskusi yang terputus..:D   Sun Jul 27, 2008 1:05 am

Terdapat perbedaan aksentuasi makna dan semangat ketika postmodernisme difahami sebagai periode kesejarahan dan mode pemikiran, meskipun keduanya memiliki keterkaitan yang amat erat: yang pertama mengajak kita untuk memusatkan pada kajian sosiologis terhadap kehidupan masyarakat postmodern, sedang yang kedua pada analisa konseptual-filosofis.

Ketika postmodernisme dikaitkan dengan Islam, kita juga bisa meniliknya dari dua arah tersebut. Tapi di sini kita sulit mencari sosok pemikir yang secara spesifik dan intens terlibat dalam wacana postmodernisme sebagai sebuah agenda filosofis-intelektual. Barangkali hanya dua nama yang mudah disebutkan, yakni Mohamed Arkoun dan Hassan Hanafi. Yang pertama seorang intelektual muslim kelahiran Aljazair yang tinggal di Perancis, dan yang kedua berasal dari Mesir yang juga banyak mengenyam pendidikan di Perancis. Keduanya memiliki keterlibatan intelektual secara langsung dengan isu dan gerakan postmodernisme di Eropa. Dari keduanya itu kelihatannya Arkoun lebih terlibat jauh. Berbagai karyanya, yang sebagian besar masih dalam edisi Perancis, memang secara eksplisit memperkenalkan konsep "dekonstruksi" dari Derrida dalam memahami Al-Qur'an, meskipun dalam segi yang amat fundamental Arkoun berbeda dari Derrida dan pemikir postmodernis yang lain.
Dalam analisa sosiologis-historis, kaitan antara postmodernisme dan Islam sampai sejauh ini sedikit sekali mendapat perhatian. Di antara yang sedikit itu adalah karya Akbar S. Ahmed, Postmodernism and Islam (1992) dan Ernest Gellner, Postmodernism, Reason and Religion (1992). Meskipun keduanya secara eksplisit menyebutkan postmodernism dalam judul bukunya, tetapi sayang analisanya kurang masuk lebih dalam memasuki agenda diskusi yang dilakukan oleh kaum poststrukturalis. Namun begitu kedua buah buku ini setidaknya memberikan pengantar bagi kita untuk memasuki arena diskusi mengenai kaitan Islam dengan persoalan modernitas dan postmodernitas.
Ahmed memulai analisanya dengan terlebih dahulu mencirikan karakter sosiologis postmodernisme. Di sana terdapat delapan yang menonjol, yaitu:
Satu, timbulnya pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas; memudarnya kepercayaan pada agama yang bersifat transenden (meta-narasi); dan semakin diterimanya pandangan pluralisme-relativisme kebenaran.
Dua, meledaknya industri media massa, sehingga ia bagaikan perpanjangan dari sistim indera, organ dan saraf kita, yang pada urutannya menjadikan dunia menjadi terasa kecil. Lebih dari itu, kekuatan media masa telah menjelma bagaikan "agama" atau "tuhan" sekuler, dalam artian perilaku orang tidak lagi ditentukan oleh agama-agama tradisional, tetapi tanpa disadari telah diatur oleh media massa, semisal program televisi.
Tiga, munculnya radikalisme etnis dan keagamaan. Fenomena ini muncul diduga sebagai reaksi atau alternatif ketika orang semakin meragukan terhadap kebenaran sains, teknologi dan filsafat yang dinilai gagal memenuhi janjinya untuk membebaskan manusia, tetapi, sebaliknya, yang terjadi adalah penindasan.
Empat, munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan romantisisme dengan masa lalu.


Lima,
semakin menguatnya wilayah perkotaan (urban) sebagai pusat kebudayaan, dan
wilayah pedesaan sebagai daerah pinggiran. Pola ini juga berlaku bagi
menguatnya dominasi negara maju atas negara berkembang. Ibarat roda, negara
maju sebagai "titik pusat" yang menentukan gerak pada "lingkaran
pinggir".

Enam, semakin terbukanya peluang bagi klas-klas sosial atau
kelompok untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas. Dengan kata lain, era
postmodernisme telah ikut mendorong bagi proses demokratisasi.

Tujuh, era postmodernisme juga ditandai dengan munculnya
kecenderungan bagi tumbuhnya eklektisisme dan pencampuradukan dari berbagai
wacana, potret serpihan-serpihan realitas, sehingga seseorang sulit untuk
ditempatkan secara ketat pada kelompok budaya secara eksklusif.

Delapan, bahasa yang digunakan dalam wacana postmodernisme
seringkali mengesankan ketidakjelasan makna dan inkonsistensi sehingga apa yang
disebut "era postmodernisme" banyak mengandung paradoks.

Paradoks yang digaris bawahi Ahmed antara lain ialah: masyarakat mengajukan
kritik pedas terhadap materialisme, tapi pada saat yang sama pola hidup
konsumerisme semakin menguat; masyarakat bisa menikmati kebebasan individual
yang begitu prima yang belum pernah terjadi dalam sejarah, namun pada saat yang
sama peranan negara bertambah kokoh; dan masyarakat cenderung ragu terhadap
agama, tetapi pada saat yang sama terdapat indikasi kelahiran metafisika dan
agama.

Baik dari aspek kajian sosiologis maupun intelektual-filosofis, isu
postmodernisme muncul sebagai agenda wacana masyarakat Barat. Sejak 6 abad
terakhir praktis kepemimpinan dunia dipegang oleh Barat, setelah sebelumnya
oleh dunia Islam. Dunia Islam jauh ketinggalan dalam menyumbangkan peradaban
sains dan teknologi dan kreasi-kreasi lain. Islam sebagai paradigma syariat dan
teologi memang kelihatan masih kokoh (untuk tidak mengatakan jumud atau
beku), tetapi Islam sebagai paradigma peradaban berada di luar panggung
permainan, dan cenderung sebagai penonton yang "cemburu".

Sejarah mencatat bahwa loncatan-loncatan kreasi dan inovasi intelektual
dalam Islam terjadi justeru ketika terjadi kontak dan pergulatan dengan Barat.
Hal ini terjadi begitu menyolok ketika Islam berjumpa dengan warisan
intelektual Yunani. Karya-karya intelektual Islam terbaik dan amat monumental
terbentuk pada abad-abad pertengahan di mana pergulatan berlangsung begitu
intens antara filsafat Yunani dan pemikir-pemikir muslim Arab Persia khususnya.


Kontak kedua yang juga amat menentukan dalam perkembangan Islam terjadi pada
awal abad ke-20 ini. Gerakan pembaharuan dan modernisasi dalam Islam merebak
setelah Islam berjumpa dengan Barat modern. Hampir semua tokoh modernis dalam
Islam adalah mereka yang memiliki apresiasi kritis terhadap intelektualisme
Barat. Pada fase ini kontak dengan Barat memberikan pencerahan dalam pemikiran
politik dan apresiasi teknologi. Pada penghujung abad 20 ini, setelah Perang
Dunia I dan II kelihatannya pola hubungan Islam-Barat melahirkan nuansa-nuansa
baru. Pada fase ketiga inilah postmodernisme masuk sebagai salah satu agenda,
meskipun bagi mayoritas pemikir muslim, ia tetap merupakan bagian tak
terpisahkan dari paradigma westernisme-modernisme.

Dengan mengamati buku-buku mutakhir yang berkenaan
dengan hubungan Barat dan Islam, terdapat indikasi yang kuat bahwa respons
dunia Islam, terdapat Barat lebih diwarnai dengan semangat politis-ideologis.
Karya John Esposito, The Islamic Threat: Myth or Reality?
(1992), dengan bagus mencoba menjelaskan hubungan Barat dan Islam yang selalu
ditandai konflik.
[left]
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
caungr



Jumlah posting : 5
Join date : 08.09.08

PostSubyek: Re: Bahan diskusi yang terputus..:D   Mon Sep 08, 2008 9:32 pm

Pelabelan antara barat dan timur, islam dan non islam, negara maju dan miskin, telah menjadi pisau analisis tentang identitas kesamaan dan perbedaan. ini jugalah menjadi sekat dalam membangun komunikasi dan distribusi sumber2 daya.

Namun pada kenyataannya tampaknya dengan analisa sosial berdasarkan kelas tersebut semakin kabur dewasa ini, sebagai contoh bila Selama ini Negara Barat yang dikomandoi oleh AS dianggap negara Kapitalis, yang menyerap seluruh sumber daya didunia menuju kepada nya, tampaknya tidak sepenuhnya benar.
Hari2 terakhir ini kita semakin jelas melihat bahwa Saudagar-saudagar Arab pun telah menjadi raksasa pemodal yang penuh ambisi. Dalam headlines media hari2 terakhir ini kita lihat Manchester City telah dibeli oleh konsorsium kapitalis Arab untuk mengeruk ruang dan benak dunia yang pada akhirnya adalah mengeruk uang dari masyarakat global di pasar saham atau mengikat iklan yang besar yang pada akhirnya juga produk menjadi kian mahal akibat cost iklan yang sangat tinggi.

Sekat informasi dan dan keuangan, modal barang dan jasa pun kian kabur dengan batas2 geografis, kita lihat mobil Toyota, MC D, Coca Cola dapat kita lihat dinagara barat, timur, negara kaya atau miskin atau segala label yang kita sematkan kepadanya.

Ekonomi kawasan pun kian menguat untuk mempertahankan tingkat inflasi, daya beli, distribusi barang dan jasa, serta ketahanan ekonomi, nilai tukar mata uang. Eropa membentuk ekonomi kawasan AFTA, NAFTA, ASEAN dsb.

Tak kalah menariknya, revolusi teknologi informasi pun mengubah wajah dunia dari sekat2nya, arus informasi modal, barang, dan jasa, ekonomi, politik, budaya, dalam hitungan detik setiap sumber daya tersebut dapat berpindah dari satu negara ke negara lain. Yang ingin saya katakan bahwa, pelabelan barat dan timur, sosialis, kapitalis,sekular, agamis, islam dan non islam, utara dan selatan, dan segala dikotomi lainnyya semakin kehilangan makna. ini terbukti bahwa Islam dikatakan identik dengan negara Miskin, terbelakang pun tak terbukti dengan muncul nya saudagar arab yang mulai menguasai dunia pun di AS.

termasuk mengelompokkan ilmu pengetahuan islam dan barat pun tampaknya sudah tidak relevan, karena dengan arus informasi yang begitu deras tak ada yang dapat membendung seperti era sekarang, muslim dapat dengan cepat mempelajari ajaran non muslim , kebudayaan, dan segala macamnya, begitu juga non muslim sebaliknya. sehingga tidak heran kita ada muslim yang menjadi pakar bagi agama lain begitupun sebaliknya.

peta dunia dalam mengkelompokkan atas dasar terminologi lama sepertinya semakin usang bahkan justru dapat membawa kita kepada kesalahan dalam analisa.

Menurut Erich Fromm, masyarakat dunia saat ini telah masuk dalam karakter sosial yang relatif homogen, yaitu dunia sekarang tengah membentuk masyarakat konsumsi, yaitu disetiap negara telah menjadi masyarakat yang kehidupannya diarahkan hanya untuk berkonsumsi secara terus menerus. segala sesuatu yang diproduksi tujuannya hanya satu untuk mengkonsumsi sebanyak-banyaknya. Manusia peduli dia muslim, non muslim, barat, timur, utara, selatan menjadi rakus dan serakah. apabila kita mengatakan bahwa negara kapitalis itu negara barat mungkin bisa jadi agak meleset, arab saudi, qatar, china, pun telah menjadi negara penghisap baru yang siap menyaingi bahkan mungkin menjadi kartel bagi orang-orang super kaya lewat tangan-tangan Multinational Corporation atau Transnational coproration yang mengarahkan negara lain disetiap belahan dunia ini untuk mengkuti kerakusannya.

maka mungkin pada akhirnya adalah bencana kemanusiaan yang tidak ada kaitannya dengan muslim, non muslim, barat, timur, utara selatan, yang akan merasakan bencana kemanusiaan yang maha dahsyat akibat kerakusan segelintir orang-orang super kaya dimuka bumi, yaitu Global Warming, Kemiskinan, radikalisme, terorisme, Bencana Alam, Bencana Kelaparan, AIDS, Flu Burung, Perang, dan segala bencana kemanusiaan lainnya yang selalu melanda umat manusia.

Marilah kita tidak lagi melihat sesuatu ketidakadilan, penghisapan, keserakahan, pencurian ilmu pengetahuan berdasarkan terminologi lama. karena bumi telah semakin menjadi tiada batas yang ada hanya bencana yang selalu melanda manusia pada setiap zaman akibat ulah orang-orang super kaya di dunia ini.

perang agama telah mengakibatkan trauma yang begitu pedih terhadap keluarga korban yang ditinggalkan akibat sinisme kita terhadap agama lain, seperti di poso, ambon atau kasus terakhir adalah ahmadiyah di indonesia. mari kita bangun peradaban ini dengan lebih terbuka, saling menghargai, dan saling memahami perbedaan yang ada untuk melakukan dialog guna terjadi pada tahap awal yaitu toleransi untuk menuju prularisme masyarakat global yang berdasarkan nilai2 universal dan berkeadilan. Peradaban manusia masih akan berpotensi untuk hancur berkeping-keping bila kita merasa saling benar sendiri tanpa mau mengakui bahwa perbedaan adalah fitrah dan hujjah akan eksistensi tuhan itu sendiri.

selanjutnya mungkin sesama manusia sebagai warga bangsa dan bahkan warga dunia saling melepaskan atribut yang dimiliki saling bekerja sama untuk menegakkan keadilan sejati menuju musuh bersama yang selama ini dengan tangan2 yang tak terlihat telah mencerabut kehidupan kita, orang tua kita, bahkan masa depan anak cucu kita.


bukankah setiap agama juga memiliki kebenaran yang bersifat universal yang ingin ditegakkan demi masa depan manusia, kemanusiaan dan alam semesta. mungkin bila tidak setuju dengan teori relativitas kebenaran paling tidak menurut Mehdi Hairi Yazdi keabsolutan kebenenaran oleh tuhan bagai sinar yang masuk keprisma sehingga kemudian kebenaran yang satu tersebut menjadi relativ akibat terpecah menjadi berbagai warna,...........

karena apapun juga permusuhan, ketidaksepahaman, kebencian, ketidaksalingmengertian pada akhirnya akan berujung pada penderitaan manusia dan kemanusiaan kembali...


wassalam.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Bahan diskusi yang terputus..:D
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Komunitas Zeenit :: Zeeniter :: Filsafat Islam-
Navigasi: