Komunitas Zeenit

Komunitas Zeenit Indonesia
 
IndeksIndeks  FAQFAQ  PencarianPencarian  AnggotaAnggota  GroupGroup  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 Harga 5 Tahun Perang Iraq

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Putra Semar

avatar

Jumlah posting : 3
Join date : 23.07.08

PostSubyek: Harga 5 Tahun Perang Iraq   Fri Aug 01, 2008 11:57 pm

Dengan biaya trilyunan dan korban nyawa yang tak sedikit, siapa yang menang dalam perang Iraq? Menurut Joseph Stiglitz, pemenangnya para perusahaan kontraktor

“Freedom can be resisted, and freedom can be delayed, but freedom cannot be denied.” (Condoleeza Rice, mengutip George Bush 11 Maret 21008)

Tanggal 20 Maret 2008 ini, invasi Amerika dan sekutunya ke Iraq menginjak tahun kelima. Joseph Stiglitz, peraih Nobel bidang ekonomi tahun 2001 dan professor di Columbia University, menyebutkan bahwa pemenang sejati dari perang Iraq bukanlah Amerika, bukan sekutu, apalagi rakyat Iraq, namun para perusahaan minyak dan para kontraktor.
Dalam artikelnya di The Nation (12/03/08) berjudul “The Three Trillion Dollar War” Stiglitz menyebutkan bahwa pihak yang paling menderita kerugian akibat perang Iraq adalah rakyat Iraq sendiri. Dari 28 juta penduduknya, 4 juta jiwa menjadi pengungsi di negeri sendiri (Internally Displaced Persons –IDPs) dan 2 juta jiwa mengungsi ke negara lain. Sebanyak 450.000 penduduk dan tentara Iraq telah tewas pada 40 bulan pertama dari Perang Iraq. Jumlah korban tewas saat ini telah mencapai 600.000 jiwa. Data lain dari jusforeignpolicy.org (2008) menyebutkan total warga Iraq (sipil maupun tentara) yang tewas berjumlah 1.189.173 jiwa.

Akibat invasi AS tersebut, setengah dari total dokter di Iraq telah tewas ataupun meninggalkan Iraq. Angka pengangguran kini mencapai 25% dan kota Baghdad kini hanya menikmati delapan jam listrik saja dalam sehari.
Bagi negara Amerika Serikat sendiri perang Iraq adalah bencana. Baik bencana politik, sosial, maupun ekonomi. Jumlah tentara AS yang tewas di Iraq per Februari 2008 telah mencapai 3990 jiwa. Sementara 29395 jiwa lainnya mengalami luka-luka (www.antiwar. org). Bandingkan dengan jumlah korban tewas pada peristiwa WTC 9/11 yang berjumlah 2978 jiwa (Washington Post 26/12/06).

Bencana selanjutnya adalah bencana ekonomi. Biaya perang selama lima tahun adalah sejumlah US $ 2 trilyun. Padahal di awal perang, pemerintahan Bush hanya menganggarkan US $ 50 milyar saja. Angka lima puluh milyar dollar AS kini hanya cukup membiayai perang selama tiga bulan saja.

Kendati biaya perang ini tidak sepenuhnya ditanggung AS, namun tak tak dapat dipungkiri bahwa generasi mendatang rakyat AS dan juga warga dunia mesti menanggung biaya tersebut. Hutang nasional AS saat ini adalah US $ 5.7 trilyun dan akan bertambah US $ 2 trilyun setelah perang.

Amerika Serikat juga harus menanggung biaya kesehatan dari tentaranya yang bertugas di Perang Iraq. Sebanyak 52.000 dari veteran perang Iraq telah didiagnosa mengidap PTSD (post traumatic stress disorder) dan 40% di antara 1.65 juta tentaranya harus diberikan kompensasi karena menjadi cacat (disability).

Joseph Stiglitz menyebut mahalnya biaya, baik ekonomi maupun sosial, yang harus dibayar akibat perang Iraq ini adalah buah dari ketidakmampuan dan ketidakjujuran. Tidak jujur karena alasan utama invasi AS ke Iraq adalah dalam rangka pre emptive strike untuk menghancurkan senjata pemusnah massal (weapon of mass destruction) sekaligus menggulingkan Saddam Hussein yang ditengarai memiliki hubungan dengan Al-Qaidahh, pelaku terorisme 9/11.

Saddam Hussein memang kemudian terguling dan belakangan dijatuhi hukuman mati oleh pemerintahan boneka AS. Namun hingga digantungnya, tetap saja AS dan sekutunya tak dapat membuktikan bahwa Iraq memiliki senjata pemusnah massal dan pemerintahan Saddam Hussein memiliki hubungan dengan Al-Qaidah.

Sebaliknya, mesin perang AS dan sekutunya justru menjadi senjata pemusnah massal yang menewaskan ratusan ribu rakyat Iraq.

Perang yang Bermasalah

Sedari awal perang ini memang bermasalah. Statusnya adalah ilegal di mata hukum internasional. Karena tak mendapatkan otorisasi dari Dewan Keamanan PBB (UN Security Council). Suatu perang hanya dapat dijustfikasi oleh hukum internasional ketika ada persetujuan dari UN Security Council, baik karena alasan membela diri (self defense) ataupun karena adanya ancaman yang nyata terhadap perdamaian dan keamanan internasional (threat to international peace and security), sebagaimana yang disebutkan dalam Bab VII piagam PBB (UN Charter).

Permasalahan yang kedua adalah begitu banyaknya pelanggaran hukum humaniter (hukum perang) yang dilakukan oleh AS dan sekutunya di Iraq.

Begitu banyak rakyat sipil yang tewas, termasuk diantaranya adalah wanita, anak-anak, orangtua, dan tentara yang tak ikut berperang yang semestinya harus dilindungi berdasarkan konvensi Geneva 1949.

Suatu konvensi dimana AS turut menjadi penandantangan dan pihak (party). Pelanggaran hukum humaniter yang lain adalah penganiayaan dan penyiksaan terhadap tawanan perang.

Dunia masih cukup ingat dengan penganiayaan dan penghinaan terhadap tawanan perang Iraq di penjara Abu Ghraib pada tahun 2004. Tawanan perang, yang semestinya juga wajib dilindungi berdasarkan Konvensi Jenewa 1949 nyatanya dipermalukan dan disiksa dengan cara yang sangat merendahkan.

Padahal, AS adalah juga peserta dari Konvensi Anti Penyiksaan PBB (Convention Against Torture). Pelanggaran selanjutnya adalah hancurnya dan dijarahnya ratusan situs budaya dan peninggalan masa silam (cultural heritage) di Baghdad dan sekitarnya akibat perang. Padahal, situs yang berusia sama tuanya dengan era Babylonia itu wajib dilindungi berdasarkan Konvensi Den Haag 1954 tentang Perlindungan Warisan Budaya di Masa Konflik Bersenjata.

Laporan HAM versi AS tahun 2007 Begitu banyak kecaman terhadap perang Iraq yang dilontarkan warga dunia. Termasuk di dalam negeri AS sendiri. Juga oleh para kandidat presiden AS dari partai Demokrat, Barack Obama dan Hillary Clinton.

Namun toh belum nampak tanda-tanda bahwa kesengsaraan rakyat Iraq akan segera berakhir. Karena nyatanya pasukan AS dan sekutunya masih bercokol disana.

Alih-alih mengecam perang Iraq, pada 11 Maret 2008, Condoleeza Rice, menteri luar negeri AS, mengumumkan laporan tahunan HAM semua negara di dunia (Country Report on Human Rights Practice 2007 –www.state.gov). Dalam laporan tersebut, kementerian luar negeri AS mengkritisi kondisi HAM di hampir seluruh negara di dunia. Namun anehnya, tidak memberikan laporan tentang kondisi HAM di AS sendiri.

Laporan tersebut menyebutkan pemerintah China sebagai otoriter dan penegakan HAM-nya cenderung lemah. Pemerintah Indonesia secara umum dianggap respek terhadap HAM, namun kelembagaan hukumnya dan kemauan politiknya lemah. Uniknya, pada bagian tentang HAM di Iraq, laporan tersebut lebih banyak menyoroti sisi perang saudara di Iraq, timbulnya gerakan separatis bersenjata, adanya kelompok yang berkomplot dengan Al-Qaidahh, teror bom dan serangan bunuh diri disana sini. Tak menyebut peran AS dan sekutunya dalam pelanggaran HAM di Iraq.
Satu keunikan lagi, di awal pidato untuk mengumumkan laporan HAM seluruh negara dunia 2007 ini menteri Condoleeza Rice mengutip kalimat Presiden George Bush : “As President Bush has said, “Freedom can be resisted, and freedom can be delayed, but freedom cannot be denied.” (kemerdekaan dapat ditahan, kemerdekaan dapat ditunda, namun kemerdekaan tak dapat ditolak).

Pertanyaannya, kemerdekaan seperti apa yang kini didapatkan sejuta lebih rakyat Iraq dan ribuan tentara AS dan sekutu yang tewas di Iraq? Bukankah yang pemenang perang Iraq, seperti analisis Joseph Stiglitz, adalah para perusahaan minyak dan perusahaan kontraktor pembangunan Iraq
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
khom
Baru Nyoba
Baru Nyoba


Jumlah posting : 28
Join date : 23.07.08

PostSubyek: Re: Harga 5 Tahun Perang Iraq   Tue Aug 05, 2008 7:21 am

Perang Iraq.??

Kita tengok kebelakang ketika Iraq perang melawan Iran, dimana Iraq bersekutu atau mendapatkan suply senjata dari US. dan Iran mendapatkan suply senjata dari lawan ideologinya US yaitu Unisoviyet. Adalah tidak menutup kemungkinan adanya keterkaitan terorr 9/11 dengan perang Iraq, diluar anggapan US mengakupasi Iraq karena senjata pemusnah massal dan keterkaitan jaringan teroris Ossama bin Laden. Yang sudah pasti ketika perang dengan Iran hampir semua senjata Iraq dari rudal sampai ke senjata kimia yg dikhawatirkan oleh US adalah produksinya US itu sendiri. Jadi perang adalah alasan lain yg menurut pengamatan saya:

- merebut / membentuk pangkalan militer secara permanen di kawasan mideast karena letak Israel masih terlalu jauh.
- sasaran intinya adalah Iran yg sudah nyata selama perang dengan Iraq mendapatkan semua teknologi dari Russia.
- minyak itu sudah pasti karena SDA Iraq tersebut sangat memiliki nilai cukup besar, jadi tidak usah mengeksplorasi sumur yg belum tentu ada minyaknya, tapi rebut saja yg sudah pasti atau yg sudah ada.
- selama perang berlangsung korban nyawa baik tentara US sendiri atau masyarakat Iraq baik sipil dan juga tentara memang ada kesengajaan untuk dikorbankan. alasannya adalah hegemoni US yg ingin menguasai dunia dengan skenario yg dirancang oleh sekelompok manusia pshykopat, dimana dalam salah satu planningnya adalah mengurangi populasi dunia dengan mematok penduduk dunia tidak boleh lebih dari 5 milyar jiwa, perang adalah salah satu cara untuk mengurangi populasi tersebut. Selain program lain seperti membiarkan manusia terbunuh baik sengaja atau tidak sengaja, dengan kata lain membiarkan negara ketiga yg miskin tetaplah miskin

bersambung....sorry mendadak ngeblank
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Harga 5 Tahun Perang Iraq
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Komunitas Zeenit :: Zeeniter :: Kajian Aktual-
Navigasi: