Komunitas Zeenit

Komunitas Zeenit Indonesia
 
IndeksIndeks  FAQFAQ  PencarianPencarian  AnggotaAnggota  GroupGroup  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 Buddha Meramalkan Kedatangan Muhammad?

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Semutfunk
Baru Nyoba
Baru Nyoba
avatar

Jumlah posting : 25
Join date : 22.07.08
Age : 31
Lokasi : Dunia

PostSubyek: Buddha Meramalkan Kedatangan Muhammad?   Wed Aug 06, 2008 7:38 am

SEORANG RAHMAT BAGI SEGALA BANGSA (AL-QURAN)
Identifikasi

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kamu tanda bukti dari Tuhan kamu, dan telah Kami turunkan kepada kamu cahaya yang terang (Maitreya Buddha)” (Q.S. 4:175).

Mahatma Buddha, guru serta pendakwah moral yang mulia, dalam penghormatan lain dikenal sebagai ‘Cahaya Asia”; yang mengusir semua kegelapan karena kejahilan serta menyembuhkan penyakit ruhani dari dataran India; dilahirkan di kota Kapilavastu di Nepal sekitar 2400 tahun yang lalu. Menurut keyakinan Buddha dia adalah akhir dari serangkaian pembaharu keagamaan setelah banyak pengajar yang bangkit pada pelbagai kejadian khusus sebelum dia. Ayahnya, Sudhodana adalah dari dinasti Sakya; seorang raja dan ibunya bernama “Maya Dewi”. Silsilahnya mencapai Kshatrya Rishi Gautama yang terkenal, karena itu Buddha dipanggil sebagai Sakya Muni Gautama atau Sakya Singha.

Pentingnya arti nama Buddha: Buddha adalah kata Sanskerta dan ini berarti seorang yang bangkit, terbangun, cerdas, pandai, bijaksana, tercerahkan, dan sebagainya. Atau ini berarti seorang laki-laki sempurna, yang telah mencapai ilmu kebenaran dan ketulusan serta seorang yang telah keluar dari kegelapan dunia kepada cahaya. Sesungguhnya, asal kata ini adalah dari kata Arab Bath, Ba’atha dan Taba’ath, yang berarti dia membangkitkannya, menarik hatinya, atau meletakkan dia dalam gerakan atau tindakan. Baethun dan Beath berarti seorang lelaki yang kegelisahan atau kesedihannya membangunkan dia dari tidurnya. Al-Quran menyatakan tentang Muhammad:

“Dia ialah Yang membangkitkan (ba’atsa) di kalangan bangsa Ummi seorang Utusan di antara mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, dan menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, walaupun mereka benar-benar dalam kesesatan yang terang” (Q.S. 62:2).

Menurut terminologi Buddha, ini bukanlah nama melainkan gelar, yang dicapai oleh seseorang yang telah keluar dari kegelapan kepada cahaya, dan yang menyeru kepada orang-orang lain agar keluar dari lubang ini. Ada banyak Buddha bahkan sebelum Sakya Muni Gautama dan di sana terdapat nubuatan tentang kedatangan seorang Buddha sesudahnya. Maka kesamaan pertama dari Nabi Muhammad dengan Buddha adalah gelarnya dan dalam dakwahnya; dia sendiri keluar dari kegelapan kepada cahaya dan dia menyeru yang lain agar keluar dari sumur tanpa dasar ini. Dia dilahirkan demi kesejahteraan kerumunan yang sangat besar ini! (Fo-sho-Hing-tsan-King 39:56).

Al-Quran mengumumkannya dengan kata-kata yang jelas:

“Telah Kami turunkan kepada kamu cahaya yang terang” (Q.S. 4:175).

“Dia ialah Yang membangkitkan di kalangan bangsa Ummi seorang Utusan di antara mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, dan menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah” (Q.S. 62:2).

“Seorang Utusan yang membacakan kepada kamu ayat-ayat Allah yang terang, agar ia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan berbuat baik dari gelap ke terang” (Q.S. 65:11).

Dan dalam ayat yang lain dikatakan:

“Sesungguhnya telah datang kepada kamu, cahaya dan Kitab yang terang” (Q.S. 5:15).

Dua hal di sini yang dikatakan sebagai telah datang dari Tuhan, suatu cahaya dan kitab yang terang. Cahaya adalah Nabi, dan Kitab, adalah al-Quran:

“Dengan itu, Allah memimpin pada jalan keselamatan kepada siapa yang mengikuti perkenan-Nya, dan mengeluarkan mereka dari gelap ke sinar terang dengan izin-Nya, dan memimpin mereka pada jalan yang benar” (Q.S. 5:16).
Dan kegelisahannya pada kemanusiaan dinyatakan dalam:

“Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang Utusan dari kalangan kamu sendiri, pedih terasa olehnya kamu jatuh dalam kesengsaraan, sangat cemas terhadap kamu” (Q.S. 9:128).

Inilah gambaran sejati dari hati yang gundah-gulana, tidak saja terhadap para pengikutnya sendiri, tidak saja untuk kaum atau negerinya sendiri, melainkan untuk seluruh kemanusiaan. Beliau cemas terhadap beban yang menimpa semuanya, dan beliau penuh keprihatinan demi kesejahteraan semuanya. Risalahnya menyatakan diri sebagai kekuatan ruhani yang terbesar, yang pada akhirnya ditakdirkan untuk membawa seluruh umat manusia kepada kesempurnaan.

Dan ini sungguh mempengaruhi transformasi kemanusiaan dari dalamnya kemerosotan yang paling rendah kepada puncak tertinggi peradaban dalam jangka waktu yang pendeknya sungguh tak terkira. Untuk keadaan yang tiada atandingannya ini, seorang pengarang anti-Muslim, Sir William Muir, berkata:

Dari zaman yang tak bisa diingat lagi Mekka dan seluruh jazirah telah meluncur dalam kemandegan spiritual….Orang-orang tenggelam dalam takhayul, kekejaman dan kemesuman….Agama mereka adalah berhala yang memalukan; dan kepercayaan mereka adalah ketakutan khayali kepada hantu yang tidak kelihatan… Tiga belas tahun sebelum Hijrah, Mekkah tergeletak tanpa kehidupan dalam keadaan yang hina ini. Betapa besar perubahan telah terjadi dalam janagka waktu tigabelas tahun ini!…. Kebenaran agama Yahudi telah lama bergema di telinga orang-orang di Madinah, tetapi bergeming hingga mereka mendengar nada ruhani yang menggebu dari Nabi Arabia sehingga mereka pun, terbangun dari tidur lelapnya, dan tiba-tiba melompat dalam kehidupan yang baru dan sungguh-sungguh”. (1)

Sekali lagi, “Buddha” berarti seorang yang mempunyai ilmu yang lengkap tentang kebenaran. Kita dapati dalam al-Quran:

“Dan katakanlah: Kebenaran telah datang dan kepalsuan lenyap. Sesungguhnya kepalsuan itu pasti lenyap” (Q.S. 17:81).

Kedatangan Nabi Muhammad di sini dikatakan sebagai Kedatangan kebenaran. Ketika Nabi Suci masuk ke kota Mekkah sebagai seorang penakluk dan ketika Rumah dari Yang Maha-suci dibersihkan dari berhala, Nabi membaca ayat ini dan berkata:

“Kebenaran telah datang, dan kepalsuan tak akan timbul, dan tak akan kembali” (Q.S. 34:49).

Ini berarti bahwa kepalsuan tidak dapat berdiri di hadapan kebenaran, dan bahwa kebenaran pada akhirnya akan menang ke seluruh penjuru dunia, sebagaimana dia telah menang di tanah Arab pada masa kehidupan Nabi. Dan dalam ayat lain risalah Muhammad disebut Al-Furqan dan inilah nama dari al-Quran sesuai dengan:

“Maha-berkah Dia Yang telah menurunkan Pemisah (Furqan) kepada hamaba-Nya, agar ia menjadi juru ingat bagi sekalian bangsa” (Q.S. 25:1).


Ini disebut Furqan karena pemisah yang akan membedakan antara kebenaran dengan kepalsuan dan ini berkaitan dengan transformasi besar-besaran yang terbawa dalam kehidupan umat.

Tambahan kata-kata bahwa Nabi akan menjadi juru-ingat dari bangsa-bangsa, menunjukkan bahwa transformasi yang dibawa di Arabia akhirnya akan meluas ke seluruh penjuru dunia dan segala bangsa akan memetik manfaat darinya. Menurut ajaran al-Quran, kebenaran itu terdiri dari keimanan kepada Tuhan atau selalu berkomunikasi dengan Dzat Ilahi dan mencelupkan dirinya dalam sifat-sifat Ilahi serta pemurah dan pengasih terhadap sesama manusia.

Ketiga arti dari kata Buddha ini adalah atribut baik dari Gautama Buddha maupun Maitrreya Buddha sebagaimana yang dinubuatkan oleh Gautama sendiri:

Membangunkan manusia yang terbaring nyenyak, dia sendiri dibangunkan dan ditingkatkan menjadi Buddha.
Dalam kegelapan yang menyelimuti sekitarnya dialah cahaya, menyeru orang-orang dan menunjukkan mereka jalan yang benar kepada keselamatan.
Dia adalah gabungan dari kebenaran dan ketulusan yang merontokkan segala kepalsuan.

Buddha Gautama meramalkan datangnya Maitreya Buddha yang serupa dengannya. Setelah Buddha hanya ada dua utusan yang muncul ke dunia, Isa Almasih dan Muhammad. Tetapi Yesus sendiri menyatakan bahwa ruh kebenaran belum datang yang akan membimbing manusia kepada seluruh kebenaran:

Tetapi apabila ia datang, yaitu Roh Kebenaran, ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab ia tidak akan berkata-kata dari dirinya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarnya itulah yang akan dikatakannya dan ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yohanes 16:13) Tidak seorangpun yang muncul di dunia setelah Isa Almasih yang menjawab gambaran ini kecuali Nabi Suci Muhammad. Dan lenyapnya kepalsuan dari Arabia di hadapan matanya menunjukkan kebenaran dari pernyataannya ini.

Kedua, menurut keyakinan Kristen maka pohon dimana Adam dilarang mendekati adalah pohon pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan. Risalah Buddha menentang hal itu. Menurut al-Quran itu adalah pohon kematian – kematian ruhani dari manusia – pohon kejahatan dimana manusia lagi dan lagi-lagi diperingatkan agar jangan di dekati, dan adalah kejahatan , yang mana semua Nabiyullah itu dan seluruh Buddha memperingatkan manusia. Orang Kristen percaya bahwa dikeluarkannya manusia dari surga itu karena memakan buah-buahan pohon pengetahuan tentang baik dan jahat. Sedangkan menurut Nabi Muhammad itu bukanlah pengetahuan melainkan kebodohanlah yang telah menyingkirkan dia dari sana.


Terakhir diubah oleh Semutfunk tanggal Wed Aug 06, 2008 7:43 am, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://sonjeykhan.blogspot.com
Semutfunk
Baru Nyoba
Baru Nyoba
avatar

Jumlah posting : 25
Join date : 22.07.08
Age : 31
Lokasi : Dunia

PostSubyek: Re: Buddha Meramalkan Kedatangan Muhammad?   Wed Aug 06, 2008 7:41 am

BUDDHA DAN MUHAMMAD S.A.W.

Quote :
“Boleh jadi engkau akan membunuh dirimu karena duka-cita, karena mereka tak mau beriman” (Q.S. 26:3).

Buddha, sebagaimana telah kami ceriterakan, adalah putera seorang Raja. Sketsa hidupnya secara singkat berisi tujuh perkara: Pada masa mudanya suatu kali dia melihat seorang tua, seorang sakit dan seorang mati. Melihat tiga bencana dalam kehidupan manusia ini, dia sangat sedih sehingga memutuskan untuk mencari tahu penyebab dari kesedihan ini serta cara untuk menghindarinya. Karena itu dia mengasingkan diri untuk menyelamatkan manusia dari kekacauan yang menakutkan ini.

Lalu dia membuang pakaian kerajaannya, berpisah dari isteri dan puteranya, meninggalkan istana dan menjalani hidup kependetaan, menarik diri dari segala keinginan duniawi. Dia mengabdikan dirinya semata­mata untuk menemukan penyebab dari kesakitan dan kesusahan yang meraja-lela di antara umat manusia. Dia mengunjungi banyak Resi dan muni (para wali dalam agama Hindu) dan mengadakan diskusi bersama mereka selama enam tahun.

Tidak puas dengan mereka lalu dirinya sendiri menjalankan banyak praktik yang keras dalam Hindu Yogi tanpa ahasil. Tetapi simpatinya kepada penderitaan umat manusia serta hasratnya yang kuat untuk menyelamatkan kemanusiaan telah menarik turun kepemurah dan pengasih-Nya Tuhan, dan akhirnya di bawah pohon Bo dia menerima rahmat Ilahi dan cahaya yang menjadikannya memperoleh gelar “Cahaya Asia” (Ashvghosha, Kion I verg 3).

Mereka yang mempelajari kehidupan Nabi Suci kita akan mengetahui betapa beliau sangat terkejut melihat orang-orang yang terbenam dalam kebobrokan moral serta upacara mesum. Beliau demikian gelisah memikirkan mereka dan seringkali bangun pada waktu malam serta hatinya membubung tinggi; dia sering meninggalkan rumahnya dan pergi ke gua di Bukit Hira. Kesunyianlah sesungguhnya yang menjadi hasrat dalam dirinya. Di sini dalam gua ini dia sering tinggal semalam suntuk, merenungkan nasib murung dari umatnya, berdoa dan menangis di hadapan Tuhan Yang Maha-kuasa untuk menciptakan bangsa yang beradab kelaur dari kaum yang liar itu. Seorang sufi zaman ini telah mnggambarkannya dengan kata-kata berikut ini:

“Saya tak tahu betapa besar kegelisahan, kesedihan dan kedukaan yang meliputi fikirannya, dan yang menariknya ke gua yang sunyi itu dengan prihatin dan susah hati. Tiada ketakutan sedikitpun terhadap kegelapan dalam fikirannya ataupun kegentaran terhadap kesunyian, tidak takut mati, tidak khawatir terhadap reptil berbisa. Dia menangis penuh kesakitan demi perbaikan umatnya. Bermohon kepada Tuhan siang dan malam telah menjadi hasratnya. Karena itu mengingat kerendah-hatiannya, doa dan kesungguhan permohonannya, maka Tuhan Yang Maha-pengasih telah menganugerahkan kepadanya rahmat bagi dunia yang gelap mencekam”.

Di gua ini kata-kata Tuhan yang diucapkan kepadanya akhirnya menjadi kekuatan yang memberi kehidupan kepada dunia. Karena itu Bukit Hira disebut Bukit Cahaya (Jabal an-Nur).. Demikianlah Nabi Suci dipanggil untuk mengemban tugas berat ini, yakni reformasi dari seluruh umat manusia; dan sesuai dengan nubuat dari Sakyamuni Gautama, Muhammad adalah Maitreya Buddha yang dihormati oleh sekitarnya.

ANEKDOT KEDUA

Buddha meskipun seorang pangeran, meninggalkan kerajaannya dan menjalani kehidupan seorang pertapa. Muhammad bukanlah seorang pangeran atau raja, tetapi kaum Quraish mencoba memenangkan hatinya dengan godaan dan mendatanginya secara langsung:

Quote :
“Jika ambisimu untuk memiliki kekayaan maka kami akan timbunkan kekayaan seberapapun kamu ingini; jika kamu menghendaki kehormatan, kami akan bersiap untuk berikrar mengakui kamu sebagai raja dan tuan kami; jika engkau senang kepada kecantikan, kami akan menyerahkan ke tanganmu gadis-gadis yang tercantik sesuai pilihanmu”.

Tetapi beliau menjawab:

“Saya tidak menginginkan kekayaan ataupun kekuasaan politik. Saya telah ditunjuk Tuhan sebagai juru-ingat kepada umat manusia, serta menyampaikan risalah­ Nya kepadamu. Bila kalian menerimanya, maka engkau akan mendapatkan kebahagiaan besar dalam kehidupan ini maupun di akhirat nanti; bila kalian menolak firman Tuhan, sesungguhnya Tuhan akan memutuskan antara aku dengan kalian”.

Beliau diancam dengan pembunuhan, dan bahkan Abu Talib, pamannya dan pendukung tunggalnya, menyatakan kepadanya bahwa dia tak sanggup lagi menghadapi persatuan perlawanan dari Quraish. Namun nabi bergeming; katanya:

“Wahai paman, meskipun mereka menaruh matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku supaya aku membatalkan dakwahku ini; aku takkan berbuat demikian; aku takkan pernah menyerah hingga Tuhan memperkenankannya dengan kemenangan atau aku binasa dalam usahaku” (Ibnu Hisham, halaman 15, “Spirit of Islam”, oleh Amir Ali, halaman 186).

Setelah berbilang tahun penderitaan yang paling berat demi kebaikan dari umat itu sendiri yang mendapat kesenangan dengan menimpakan kepadanya siksaan yang paling kejam, di saat beliau mendaki ke puncak kemuliaan kerajaan, beliau tetap hidup dengan makanannya yang sederhana dan memakai busana yang sama bersahajanya. Memang berat untuk meninggalkan mahkota Raja, dan menjalani hidup sebagai pertapa, tetapi lebih berat lagi bila mendapatkan kewenangan sebagai raja dan pada waktu yang sama menjalani kehidupan seorang pertapa. Meskipun penguasa negara, beberapa malam beliau tidur tanpa makanan dan beberapa hari hidup hanya dari sekedar kurma semata. Beliau senantiasa tidur di atas hambal yang kasar dari daun kurma.

Tak ada istana yang dibangun buat dirinya dan dia tak punya mahkota yang bertatahkan intan dan mutiara. Ketika isteri-isterinya datang untuk meminta sedikit barang bagus dengan hiasannya, dengan dingin dikatakan kepada mereka bahwa bila mereka menginginkan benda-benda tersebut maka mereka tidak layak hidup di rumah nabi (Q.S. 33:28). Beliau menambal sepatunya sendiri, memerah susu kambing, menyalakan api di pediangan isteri-isterinya, dan melayani beberapa janda yang kekurangan.

ANEKDOT KE TIGA

Kembali kepada pokok acara, Gautama Buddha ditetapkan dengan Ilmu Ilahi, dan dia menghangatkan diri di bawah Pohon Bo dengan Cahaya Ilahi, yang merubah hidupnya secara total. Untuk merayakan hal ini maka kaum Buddhis melakukan jamaah dan pertemuannya di bawah bayangan pohon Bo.

Teosofis juga telah mengikuti jalan ini. Di antara umat Hindu pohon seperti Bo dan pipal dianggap suci, karena dipercaya bahwa para dewata beristirahat di bawahnya (Atharwa Weda 5:135:1; Rig Weda 1:164:20,22).

Dalam buku-buku Metafisika Yunani dan “Buku Orang Mati” Mesir Kuno pohon Sidrah dipandang sebagai puncak yang terpuji, ilmu dan kendali universal. Menurut kata Homer seorang yang makan buah pohon Sidrah tidak pernah akan kembali ke dunia ini melainkan mencapai kesempurnaan ruhani kedamaian dan ketenteraman. (2)

Quran Suci mewahyukan bahwa Nabi Muhammad telah mencapai tujuan ini :

“Dan sesungguhnya ia melihat Dia di landasan yang lain,
Di sisi pohon Sidrah yang paling jauh.
Di sisinya adalah Taman yang Kekal.
Tatkala apa yang menutupi pohon Sidrah;
Penglihatan tak membalik ke arah lain, dan tak pula melebihi batas.
Sesungguhnya ia melihat sebagian tanda-bukti Tuhannya Yang Maha-besar” (Q.S. 53:13-18).

Ayat-ayat dalam wahyu Ilahi ini berbicara tentang mi’raj Nabi Muhammad. Dan apa yang diperoleh Buddha di bawah pohon Bo adalah mi’rajnya. Karena itu:

‘Segera setelah pencerahannya maka Brahma sang kepala dewata datang mengunjungi Buddha Gautama di bawah pohon Bo” (“Majjhima Nikaya” oleh Silchara, halaman 151).

Dan mi’rajnya Musa itu disebutkan dalam Quran Suci pada pertemuan dua laut yakni ilmu manusiawi dan Ilmu Ilahi. Kaum Buddhis salah menilai pohon Bo sebagai akhir tujuan.

Peningkatan dan peninggian ini secara kiasan disamakan dengan pohon yang tinggi, yang oleh kaum Buddhis dan Hindu dianggapnya pohon itu Bo atau pipal (ashvatha).

Menurut al-Quran ini berarti bahwa Nabi Suci melihat tanda-bukti dan argumen akan adanya Tuhan, pencapaian semacam itu diluar kemampuan ilmu manusiawi.

Pohon ini, yang oleh kaum Hindu dan Buddhis yang memberhalakannya karena terbaliknya penglihatan ‘dalam’ mereka lalu diturunkan menjadi sesembahan, sesungguhnya berarti pohon ruhani yakni wahyu Tuhan dan Ilmu Ilahi.

ANEKDOT KE EMPAT
Buddha menguak tabir kebenaran keagamaan yang banyak tersembunyi, yang dirahasiakan oleh para ulama Hindu. Dia mengkritik dengan sangat Kitab Weda. Dia mengakhiri segala jenis eksploatasi dalam bidang keagamaan dan kepercayaan, serta meletakkan landasan persamaan dan persaudaraan.

Dhammapad berisi kata-kata: “Tumhehi Kiccan atappan akkatara Tathagata. (Engkau sendiri yang harus mengendalikan dirimu; Tathagata hanyalah guru-gurumu) “. Tentangnya dia mengumumkan: “Aku adalah seorang guru manusia”.

Bhiksu Narada menulis tentang Buddha bahwa dia tak pernah mengaku sebagai inkarnasi Wisnu, sebagaimana umat Hindu cenderung mempercayainya, ataupun dia seorang juru-selamat yang menyelamatkan orang lain dengan penyelamatan oleh pribadinya. (“Buddhism, in a nutshell” oleh Bhikku Narada.).

Sungguh disayangkan bahwa sekte Buddhis Mahayana telah jauh menyeleweng sehingga mereka percaya bahwa Buddha itu Tuhan Yang Maha-kuasa. Padahal kenyataannya, seperti halnya Buddha, banyak risalah yang diusung oleh Muhammad, dimaksudkan untuk memperbarui agama-agama sebelumnya. Ahli hukum dan para pendeta Kristen dan Yahudi, dan pandit di kalangan Hindu dan Buddha telah menambah dan merubah dengan penemuan baru dalam kitab-kitab mereka. Quran Suci mengkaji kembali semuanya dengan dalil, logika dan rujukan, jadi dengan demikian telah membunyikan lonceng kematian bagi monopoli para pendeta atau pastur, dan membuatnya wajib bagi setiap orang, baik lelaki maupun perempuan, untuk mereguk pengetahuan kebenaran agama.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://sonjeykhan.blogspot.com
Semutfunk
Baru Nyoba
Baru Nyoba
avatar

Jumlah posting : 25
Join date : 22.07.08
Age : 31
Lokasi : Dunia

PostSubyek: Re: Buddha Meramalkan Kedatangan Muhammad?   Wed Aug 06, 2008 7:46 am

ADEGAN KE LIMA DALAM KARAKTER BUDDHISTIS

Riwayat hidup Buddha mengungkapkan anekdot menyedihkan tentang perpisahannya dengan yang akrab dan yang paling dicintai, sekali untuk selamanya. Perkawinan adalah suatu ikatan keagamaan dan hukum di antara suami dengan isteri. Jika tidak ada kesalahan, maka pembatalan atas perjanjian ini jelas diluar hukum. Sikap mental Buddha berubah. Dia meninggalkan kehidupan duniawi dan menjalani kerahiban, namun isteri dan anaknya tidak ada hal yang salah sehingga ditinggalkan. Tak ada bangsa yang bisa bertahan dengan mengikuti jejak langkah Buddha ini. Betapa pun, kaum Buddhis harus menikah, meskipun bertentangan dengan teladan yang digelar oleh Buddha dan harus berkumpul dengan para isteri dan anak-anaknya hingga akhir hayatnya. Di sini tidak ada analogi antara Buddha dan Nabi Muhammad. Memang, perpisahan sementara harus diikuti oleh orang yang tulus dalam mengabdi kepada Tuhan. Tetapi Nabi Muhammad juga hidup di tengah isteri dan anak-anaknya, menyampaikan risalah tentang cinta Ilahi, yang, sesungguhnya, adalah pelajaran yang paling bisa dipraktikkan oleh manusia. Contoh yang dilakukan oleh Buddha semasa hidupnya sendiri kelihatannya tidak bisa dipraktikkan bagi umat secara umum. Sebaliknya, karakter ideal dari Nabi Muhammad bisa diikuti oleh semua orang. Meskipun hidupnya menunjukkan sekilas perpisahannya dengan isteri dan anak-anaknya, di kala minum sedalam-dalamnya saat memuja dan menyembah Tuhannya. Menurut suatu riwayat, beliau langsung meninggalkan isterinya seketika setelah mendengar panggilan salat. Ini bukanlah suatu tugas yang mudah, hanya ahli jiwa yang bisa menghayati arti pentingnya. Seorang laki-laki yang sedang bercengkerama dengan isterinya, menikmati keakraban pasangan yang lembut penuh daya tarik dengan penuh canda dan tawa, harus menarik diri mendengar panggilan. Ikatan cinta terputus di kala mendengar seruan . Beliau mengabdikan diri sepenuhnya kepada panggilan dan Tuhan. Ini adalah saat dimana beliau bangkit untuk berubah demi mengungkapkan kecintaanya kepada Tuhan, dan seketika melepaskan seluruh kesenangan duniawi, dan menghadap Tuhan lima kali sehari. Dalam berbuat demikian, beliau bersabda:

Sesungguhnya memang ada kecintaan dan kehangatan kepada isteri dan anak-anak, tetapi ketenteraman hati itu terletak dalam pengabdian kepada Tuhan”. Adalah kilatan kecintaan kepada Tuhan ini yang mendorongnya dari isterinya bahkan di waktu malam hari. Sebagai hasilnya, beliau selalu ditemukan bersujud di hadapan Tuhan bahkan sebelum tengah malam.

Seorang laki-laki yang menyelinap pergi dari keluarganya, ke dalam pengasingan di rimba, tidak dapat mencapai ketinggian tempat berpijak seperti ini yang penuh pujaan setiap hari.

PELAJARAN KEENAM DARI KARAKTER BUDDHA

Upacara agama dan segala jenis sembahyang yang tidak ada pengaruhnya terhadap kehidupan moral dan spiritual bagi manusia itu tidak ada gunanya. Mereka yang dalam pencarian terhadap kebebasan abadi serta puncak kebenaran harus menjaga diri mereka terhadap nafsu mementingkan diri sendiri dan emosi pribadi. Sesuai dengan itu, Buddha berkata:

Bukannya kebajikan orang lain, atau dosa mereka atas apa yang diperbuat dan tidak diperbuat, tetapi adalah perbuatan salahnya sendiri serta kelalaiaannya yang harus diperhatikan oleh orang yang bijak. Bagaikan sekuntum bunga yang indah, penuh warna-warni tetapi tanpa harumnya, memang bagus tetapi tak berbuah; begitulah kata-kata dari dia yang tidak diikuti dengan perbuatan yang sama”.

Menurut Nabi Muhammad dan al-Quran, menjaga diri dari kejahatan atau menyelamatkan diri dari dosa adalah tujuan utama dari ibadah. Al-Quran berkata:

“Sesungguhnya salat itu menjaga (diri) seseorang dari perbuatan keji dan munkar” (Q.S. 29:45).
Seperti dalam perintah untuk berpuasa dikatakan:

“Wahai orang yang beriman, puasa diwajibkan kepadamu, sebagaimana diwajibkan kepada orang­orang sebelum kamu, supaya kamu bisa menjaga diri dari kejahatan” (Q.S. 2:183).

Seorang yang beribadah kepada Tuhan demi keserakahan atau kekikiran telah dirujuk dalam ayat ini:

“Tahukan engkau orang yang mengambil keinginan rendahnya sebagai tuhan?” (Q.S. 25:43)

Tidak hanya sekedar menyembah patung yang dikutuk, melainkan juga mengikuti hawa-nafsunya dengan membabi-buta, sama juga, terkutuk.

Banyak orang yang menganggap dirinya hamba Tuhan Yang Esa sesungguhnya menundukkan diri dalam penyerahan kepada berhala mereka yang terbesar, yakni hawa nafsunya. Nabi Muhammad dari buaian hingga ke liang kubur melewati keadaan yang sulit, suatu kesulitan yang jarang bisa ditemui dalam kehidupan seorang yang sendirian. Keadaan yatim piatu adalah kondisi yang sangat tidak berdaya, sedangkan mengemban tugas sebagai raja adalah puncak dari kekuasaan. Dari seorang yang yatim piatu, dia merambat naik ke puncak kemuliaan kerajaan, tetapi dia tidak membawa sedikitpun perubahan dalam cara hidupnya. Dia hidup persis sama sederhananya dalam jenis makanannya, sama sederhananya dalam berpakaian serta dalam segala hal yang khusus dia menjalani hidup yang sama sederhananya dengan ketika dia menjalani hidupnya dalam keadaan yatim-piatu. Meskipun dia penguasa dari Negara, perabot rumahnya terdiri dari satu hambal yang kasar dari daun kurma sebagai tempat tidurnya dan satu bejana air dari tanah. Dia tidak malu-malu untuk bekerja, dia menjahit sepatunya dan menambal pakaiannya sendiri.

Ketika masjid Madinah sedang dibangun, beliau bekerja seperti pekerja yang lain. Ini adalah adegan pertapa dari segala keinginan duniawi dan keserakahan, yang tersisih dari kehidupan Nabi Muhammad.

Buddha, juga menganggap keserakahan duniawi itu sebagai menipu, menjauh darinya berarti menuntun kepada keselamatan akhir.

Quran Suci mengatakan:

“Harta dan anak adalah perhiasan kehidupan dunia; tetapi sesuatu yang kekal, (yakni) perbuatan baik, itu menurut Tuhan dikau baik sekali ganjarannya, dan baik sekali harapannya” (Q.S. 18:46).

Jadi Quran Suci tidak mengajarkan doa untuk memohon emas yang tak terbatas, kekayaan atau panjang umur, seperti yang kita temui dalam Weda.

Sebaliknya, Quran Suci mengajarkan semacam permohonan untuk membantu seseorang agar bisa mencapai tingkat tertinggi dari ketulusan, kebebasan dari dosa, serta kebaikan.

ANEKDOT KE TUJUH

Keselamatan (nirwana) adalah tingkat kesucian seseorang dimana dikenal sebagai kedamaian dan ketenteraman jiwa. Menghilangkan benturan kecil-kecilan dalam kehidupan dan mengurbankan segalanya untuk memperoleh kedamaian abadi adalah sesuatu yang sulit dipikul. Hingga keinginan nafsu rendah, sebagai suatu akibat dari keserakahan dan kekikiran, dihapuskan dari dalam, maka tak seorangpun dapat selamat dari api neraka. Quran Suci, dalam mendiskusikan berbagai tahap dari jiwa manusia telah berbicara mengenai ketenteraman dan kedamaian jiwa:

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhan dikau, dengan perasaan ridla, amat memuaskan di hati. Masuklah di antara hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke Taman-Ku” (Q.S. 89:27-30).


Menurut fraseologi Buddhis status ini disebut kedamaian sempurna, ketulusan, harmoni, dan kebijaksanaan yang lebih tinggi. Buddha telah meramalkan kedatangan seorang Buddha seperti dia, karena itu, dianggap cocok untuk menunjukkan beberapa persamaan di antara Buddha dengan Nabi Muhammad
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://sonjeykhan.blogspot.com
bathin



Jumlah posting : 1
Join date : 21.01.09

PostSubyek: Re: Buddha Meramalkan Kedatangan Muhammad?   Wed Jan 21, 2009 9:29 am

semut tetap lah semut, gak bakalan pinter

baca disini http://forum.upi.edu/v3/index.php/topic,6105.0.html

biar tambah pinter ya affraid affraid affraid
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Sponsored content




PostSubyek: Re: Buddha Meramalkan Kedatangan Muhammad?   

Kembali Ke Atas Go down
 
Buddha Meramalkan Kedatangan Muhammad?
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Komunitas Zeenit :: Islam :: Rasulullah SAW-
Navigasi: